Kamis, 02 Juni 2011

wawasan nikah

Bab Pernikahan

oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

    PERNIKAHAN                                             

    Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata "nikah"  sebagai
    (1)  perjanjian  antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami
    istri (dengan resmi);  (2)  perkawinan.  Al-Quran  menggunakan
    kata  ini  untuk  makna  tersebut,  di  samping  secara majazi
    diartikannya dengan "hubungan seks". Kata ini  dalam  berbagai
    bentuknya  ditemukan  sebanyak  23  kali.  Secara  bahasa pada
    mulanya kata nikah digunakan dalam arti "berhimpun".

    Al-Quran juga menggunakan kata zawwaja  dan  kata  zauwj  yang
    berarti  "pasangan"    

untuk makna di atas. Ini karena pernikahan
    menjadikan seseorang memiliki pasangan.  Kata  tersebut  dalam
    berbagai  bentuk  dan  maknanya  terulang tidak kurang dari 80
    kali.

    Secara umum Al-Quran hanya  menggunakan  dua  kata  ini  untuk
    menggambarkan  terjalinnya  hubungan  suami  istri secara sah.
    Memang  ada  juga  kata  wahabat  (yang   berarti   "memberi")
    digunakan  oleh  Al-Quran  untuk melukiskan kedatangan seorang
    wanita  kepada  Nabi  Saw.,  dan  menyerahkan  dirinya   untuk
    dijadikan  istri.  Tetapi  agaknya kata ini hanya berlaku bagi
    Nabi Saw. (QS Al-Ahzab [33]: 50).

    Kata-kata  ini,  mempunyai  implikasi  hukum  dalam  kaitannya
    dengan  ijab kabul (serah terima) pernikahan, sebagaimana akan
    dijelaskan kemudian.

    Pernikahan, atau tepatnya "keberpasangan" merupakan  ketetapan
    Ilahi   atas   segala   makhluk.  Berulang-ulang  hakikat  ini
    ditegaskan oleh Al-Quran antara lain dengan firman-Nya:

        Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar
        kamu menyadari (kebesaran Allah) (QS Al-Dzariyat [51]:
        49).
      
        Mahasuci Allah yang telah menciptakan semua pasangan,
        baik dari apa yang tumbuh di bumi, dan dan jenis mereka
        (manusia) maupun dari (makhluk-makhluk) yang tidak
        mereka ketahui (QS Ya Sin [36]: 36).

    BERPASANGAN ADALAH FITRAH

    Mendambakan pasangan  merupakan  fitrah  sebelum  dewasa,  dan
    dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Oleh karena itu,
    agama  mensyariatkan  dijalinnya  pertemuan  antara  pria  dan
    wanita,   dan  kemudian  mengarahkan  pertemuan  itu  sehingga
    terlaksananya "perkawinan", dan beralihlah kerisauan pria  dan
    wanita   menjadi   ketenteraman  atau  sakinah  dalam  istilah
    Al-Quran surat Ar-Rum (30): 21.  Sakinah  terambil  dari  akar
    kata   sakana  yang  berarti  diam/tenangnya  sesuatu  setelah
    bergejolak.  Itulah  sebabnya  mengapa  pisau  dinamai  sikkin
    karena ia adalah alat yang menjadikan binatang yang disembelih
    tenang, tidak bergerak, setelah tadinya  ia  meronta.  Sakinah
    --karena  perkawinan--  adalah  ketenangan  yang  dinamis  dan
    aktif, tidak seperti kematian binatang.

    Guna tujuan tersebut Al-Quran antara lain menekankan  perlunya
    kesiapan  fisik,  mental, dan ekonomi bagi yang ingin menikah.
    Walaupun para wali diminta untuk tidak menjadikan kelemahan di
    bidang  ekonomi sebagai alasan menolak peminang: "Kalau mereka
    (calon-calon  menantu)  miskin,  maka  Allah  akan  menjadikan
    mereka  kaya  (berkecukupan)  berkat  anugerah-Nya" (QS An-Nur
    [24]: 31). Yang tidak memiliki  kemampuan  ekonomi  dianjurkan
    untuk  menahan  diri  dan  memelihara  kesuciannya  "Hendaklah
    mereka yang belum mampu (kawin)  menahan  diri,  hingga  Allah
    menganugerahkan mereka kemampuan" (QS An-Nur [24]: 33)

    Di  sisi  lain  perlu  juga  dicatat,  bahwa walaupun Al-Quran
    menegaskan bahwa berpasangan atau  kawin  merupakan  ketetapan
    Ilahi  bagi  makhluk-Nya,  dan walaupun Rasul menegaskan bahwa
    "nikah adalah sunnahnya", tetapi dalam saat yang sama Al-Quran
    dan   Sunnah   menetapkan   ketentuan-ketentuan   yang   harus
    diindahkan --lebih-lebih  karena  masyarakat  yang  ditemuinya
    melakukan  praktik-praktik yang amat berbahaya serta melanggar
    nilai-nilai  kemanusiaan,  seperti  misalnya  mewarisi  secara
    paksa  istri  mendiang  ayah (ibu tiri) (QS Al-Nisa' [4]: 19).
    Bahkan menurut Al-Qurthubi  ketika  larangan  di  atas  turun,
    masih  ada  yang  mengawini  mereka  atas dasar suka sama suka
    sampai dengan turunnya surat  Al-Nisa'  [4]:  22  yang  secara
    tegas menyatakan.

        Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang telah
        dinikahi oleh ayahmu tetapi apa yang telah 1a1u
        (dimaafkan oleh Allah).

    Imam  Bukhari  meriwayatkan  melalui istri Nabi, Aisyah, bahwa
    pada masa Jahiliah, dikenal empat macam  pernikahan.  Pertama,
    pernikahan  sebagaimana  berlaku kini, dimulai dengan pinangan
    kepada orang tua atau wali, membayar mahar dan menikah. Kedua,
    adalah   seorang  suami  yang  memerintahkan  kepada  istrinya
    apabila telah suci dari haid untuk menikah (berhubungan  seks)
    dengan  seseorang,  dan  bila  ia telah hamil, maka ia kembali
    untuk digauli suaminya; ini dilakukan guna mendapat  keturunan
    yang  baik.  Ketiga,  sekelompok  lelaki  kurang  dari sepuluh
    orang, kesemuanya menggauli seorang wanita, dan bila ia  hamil
    kemudian  melahirkan,  ia  memanggil  seluruh anggota kelompok
    tersebut --tidak dapat  absen--  kemudian  ia  menunjuk  salah
    seorang pun yang seorang yang dikehendakinya untuk dinisbahkan
    kepadanya nama anak itu, dan  yang  bersangkutan  tidak  boleh
    mengelak.  Keempat,  hubungan  seks yang dilakukan oleh wanita
    tunasusila, yang memasang bendera atau  tanda  di  pintu-pintu
    kediaman  mereka  dan  "bercampur"  dengan siapa pun yang suka
    kepadanya. Kemudian  Islam  datang  melarang  cara  perkawinan
    tersebut kecuali cara yang pertama.

    SIAPA YANG TIDAK BOLEH DINIKAHI?

    Al-Quran tidak menentukan  secara  rinci  tentang  siapa  yang
    dikawini,   tetapi   hal  tersebut  diserahkan  kepada  selera
    masing-masing:

        Maka kawinilah siapa yang kamu senangi dari
        wanita-wanita (QS An-Nisa [4]: 3)

    Meskipun demikian, Nabi Muhammad Saw. menyatakan,

        Biasanya wanita dinikahi karena hartanya, atau
        keturunannya, atau kecantikannya, atau karena agamanya.
        Jatuhkan pilihanmu atas yang beragama, (karena kalau
        tidak) engkau akan sengsara (Diriwayatkan melalui Abu
        Hurairah).

    Di tempat lain, Al-Quran memberikan petunjuk, bahwa

        Laki-laki yang berzina tidak (pantas) mengawini
        melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang
        musyrik; dan perempuan yang berzina tidak pantas
        dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau
        1aki-laki musyrik (QS Al-Nur [24): 3).

    Walhasil, seperti pesan surat Al-Nur (24): 26,

        Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang
        keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita
        yang keji. Dan Wanita-wanita yang baik adalah untuk
        laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah
        untuk wanita-wanita yang baik (pu1a).

    Al-Quran merinci siapa saja yang tidak boleh dikawini  seorang
    laki-laki.

        Diharamkan kepada kamu mengawini ibu-ibu kamu,
        anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang
        perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan,
        saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak
        perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki,
        anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang
        perempuan, ibu-ibumu yang menyusukan kamu, saudara
        perempuan sepesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua),
        anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri
        yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur
        dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka
        tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan juga
        bagi kamu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan
        menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang
        bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa
        lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
        Penyayang. Dan diharamkan juga mengawini wanita-wanita
        yang bersuami (QS Al-Nisa' [4]: 23-24).

    Kalaulah larangan mengawini istri orang lain merupakan sesuatu
    yang dapat dimengerti, maka mengapa selain itu --yang  disebut
    di  atas--  juga  diharamkan?  Di  sini berbagai jawaban dapat
    dikemukakan.

    Ada yang menegaskan bahwa perkawinan  antara  keluarga  dekat,
    dapat  melahirkan anak cucu yang lemah jasmani dan rohani, ada
    juga  yang  meninjau  dari  segi  keharusan  menjaga  hubungan
    kekerabatan   agar   tidak   menimbulkan   perselisihan   atau
    perceraian sebagaimana yang dapat terjadi antar  suami  istri.
    Ada  lagi  yang memandang bahwa sebagian yang disebut di atas,
    berkedudukan semacam anak,  saudara,  dan  ibu  kandung,  yang
    kesemuanya  harus  dilindungi  dari rasa berahi. Ada lagi yang
    memahami larangan  perkawõnan  antara  kerabat  sebagai  upaya
    Al-Quran  memperluas  hubungan antarkeluarga lain dalam rangka
    mengukuhkan satu masyarakat.

    PERKAWINAN ANTAR PEMELUK AGAMA YANG BERBEDA

    Al-Quran juga secara tegas melarang  perkawinan  dengan  orang
    musyrik seperti Firman-Nya dalam surat Al-Baqarah (2):

        Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik
        sebelum mereka beriman.

    Larangan  serupa  juga  ditujukan  kepada para wali agar tidak
    menikahkan perempuan-perempuan yang berada dalam  perwaliannya
    kepada laki-laki musyrik.

        Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik
        (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman
        (QS A1-Baqarah [2]: 221).

    Menurut  sementara  ulama  walaupun  ada ayat yang membolehkan
    perkawinan pria Muslim dengan wanita  Ahl  Al-Kitab  (penganut
    agama  Yahudi  dan Kristen), yakni surat Al-Maidah (51: 5 yang
    menyatakan,

        Dan (dihalalkan pula) bagi kamu (mengawini)
        wanita-wanita terhormat di antara wanita-wanita yang
        beriman, dan wanita-wanita yang terhormat di antara
        orang-orang yang dianugerahi Kitab (suci) (QS
        Al-Ma-idah [5]: 5).

    Tetapi izin tersebut telah digugurkan  oleh  surat  Al-Baqarah
    ayat  221  di  atas.  Sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Umar, bahkan
    mengatakan:

        "Saya tidak mengetahui kemusyrikan yang lebih besar dan
        kemusyrikan seseorang yang menyatakan bahwa Tuhannya
        adaLah Isa atau salah seorang dari hamba Allah."

    Pendapat ini tidak didukung oleh mayoritas  sahabat  Nabi  dan
    ulama.   Mereka   tetap   berpegang   kepada  teks  ayat  yang
    membolehkan  perkawinan  semacam  itu,  dan  menyatakan  bahwa
    walaupun  aqidah  Ketuhanan  ajaran  Yahudi  dan Kristen tidak
    sepenuhnya sama dengan aqidah  Islam,  tetapi  Al-Quran  tidak
    menamai  mereka  yang  menganut  Kristen  dan  Yahudi  sebagai
    orang-orang musyrik.  Firman  Allah  dalam  surat  A1-Bayyinah
    (98): 1 dijadikan salah satu alasannya.

        Orang kafir yang terdiri dari Ahl Al-Kitab dan
        Al-Musyrikin (menyatakan bahwa) mereka tidak akan
        meninggalkan agamanya sebelum datang kepada mereka
        bukti yang nyata (QS. Al-Bayyinah [98]: 1).

    Ayat  ini  menjadikan  orang  kafir terbagi dalam dua kelompok
    berbeda, yaitu Ahl Al-Kitab dan  Al-Musyrikin.  Perbedaan  ini
    dipahami  dari  kata  "wa" yang diterjemahkan "dan", yang oleh
    pakar bahasa dinyatakan sebagai mengandung  makna  "menghimpun
    dua hal yang berbeda."

    Larangan mengawinkan perempuan Muslimah dengan pria non-Muslim
    --termasuk pria Ahl  Al-Kitab--  diisyaratkan  oleh  Al-Quran.
    Isyarat ini dipahami dari redaksi surat Al-Baqarah (2): 221 di
    atas, yang hanya berbicara tentang  bolehnya  perkawinan  pria
    Muslim  dengan  wanita  Ahl  Al-Kitab,  dan  sedikit pun tidak
    menyinggung  sebaliknya.   Sehingga,   seandainya   pernikahan
    semacam   itu   dibolehkan,  maka  pasti  ayat  tersebut  akan
    menegaskannya.

    Larangan perkawinan  antar  pemeluk  agama  yang  berbeda  itu
    agaknya  dilatarbelakangi  oleh  harapan akan lahirnya sakinah
    dalam keluarga. Perkawinan baru  akan  langgeng  dan  tenteram
    jika  terdapat  kesesuaian  pandangan  hidup  antar  suami dan
    istri, karena jangankan  perbedaan  agama,  perbedaan  budaya,
    atau  bahkan  perbedaan  tingkat  pendidikan  antara suami dan
    istri pun tidak  jarang  mengakibatkan  kegagalan  perkawinan.
    Memang  ayat itu membolehkan perkawinan antara pria Muslim dan
    perempuan Utul-Kitab  (Ahl  Al-Kitab),  tetapi  kebolehan  itu
    bukan saja sebagai jalan keluar dari kebutuhan mendesak ketika
    itu, tetapi juga karena seorang Muslim mengakui bahwa Isa a.s.
    adalah  Nabi  Allah  pembawa ajaran agama. Sehingga, pria yang
    biasanya lebih kuat dari wanita --jika beragama Islam--  dapat
    mentoleransi  dan  mempersilakan  Ahl  Al-Kitab  menganut  dan
    melaksanakan syariat agamanya,

        Bagi kamu agamamu dan bagiku agamaku (QS Al-Kafirun
        [109]: 6).

    Ini berbeda dengan Ahl Al-Kitab yang tidak  mengakui  Muhammad
    Saw. sebagai nabi.

    Di  sisi  lain  harus  pula  dicatat  bahwa  para  ulama  yang
    membolehkan perkawinan pria Muslim dengan Ahl  Al-Kitab,  juga
    berbeda  pendapat  tentang  makna Ahl Al-Kitab dalam ayat ini,
    serta keberlakuan hukum tersebut hingga kini. Walaupun penulis
    cenderung berpendapat bahwa ayat tersebut tetap berlaku hingga
    kini terhadap semua penganut ajaran Yahudi dan Kristen,  namun
    yang perlu diingat bahwa Ahl Al-Kitab yang boleh dikawini itu,
    adalah yang diungkapkan dalam redaksi  ayat  tersebut  sebagai
    "wal muhshanat minal ladzina utul kitab". Kata al-muhshnnat di
    sini  berarti  wanita-wanita  terhormat  yang  selalu  menjaga
    kesuciannya,  dan  yang  sangat  menghormati  dan mengagungkan
    Kitab Suci. Makna terakhir ini dipahami dari  penggunaan  kata
    utuw   yang   selalu   digunakan  Al-Quran  untuk  menjelaskan
    pemberian yang agung lagi terhormat.  [1]  Itu  sebabnya  ayat
    tersebut  tidak  menggunakan istilah Ahl Al-Kitab, sebagaimana
    dalam ayat-ayat lain, ketika berbicara tentang penganut ajaran
    Yahudi dan Kristen.

    Pada  akhirnya  betapapun berbeda pendapat ulama tentang boleh
    tidaknya perkawinan Muslim dengan wanita-wanita Ahl  Al-Kitab,
    namun  seperti  tulis  Mahmud Syaltut dalam kumpulan fatwanya.
    [2]

        Pendapat para ulama yang membolehkan itu berdasarkan
        kaidah syar'iyah yang normal, yaitu bahwa suami
        memiliki tanggung jawab kepemimpinan terhadap istri,
        serta memiliki wewenang dan fungsi pengarahan terhadap
        keluarga dan anak-anak. Adalah kewajiban seorang suami
        Muslim --berdasarkan hak kepemimpinan yang
        disandangnya-- untuk mendidik anak-anak dan keluarganya
        dengan akhlak Islam. Laki-laki diperbolehkan mengawini
        non-Muslimah yang Ahl Al-Kitab, agar perkawinan itu
        membawa misi kasih sayang dan harmonisme, sehingga
        terkikis dari hati istrinya rasa tidak senangnya
        terhadap Islam. Dan dengan perlakuan suaminya yang baik
        yang berbeda agama dengannya itu, sang istri dapat
        lebih mengenal keindahan dan keutamaan agama Islam
        secara amaliah praktis, sehingga ia mendapatkan dari
        dampak perlakuan baik itu ketenangan, kebebasan
        beragama, serta hak-haknya yang sempurna, lagi tidak
        kurang sebaik istri.

    Selanjutnya Mahmud Syaltut menegaskan  bahwa  kalau  apa  yang
    dilukiskan   di  atas  tidak  terpenuhi  --sebagaimana  sering
    terjadi pada  masa  kini--  maka  ulama  sepakat  untuk  tidak
    membenarkan  perkawinan itu, termasuk oleh mereka yang tadinya
    membolehkan.

  

Wawasan Al-Qur'an
Bab Pernikahan

oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

    PERNIKAHAN                                               (2/3)

    Kalau seorang wanita Muslim dilarang kawin  dengan  non-Muslim
    karena  kekhawatiran  akan  terpengaruh  atau  berada di bawah
    kekuasaan yang berlainan agama dengannya, maka  demikian  pula
    sebaliknya.  Perkawinan seorang pria Muslim, dengan wanita Ahl
    Al-Kitab harus pula tidak  dibenarkan  jika  dikhawatirkan  ia
    atau  anak-anaknya  akan  terpengaruh  oleh  nilai-nilai  yang
    bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

    POLIGAMI DAN MONOGAMI

    Al-Quran surat Al-Nisa' [4]: 3 menyatakan,

        Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap
        perempuan-perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya),
        maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi:
        dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu khawatir tidak
        dapat berlaku adil (dalam hal-hal yang bersifat
        lahiriah jika mengawini lebih dari satu), maka
        kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu
        miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak
        berbuat aniaya.

    Atas dasar ayat inilah sehingga Nabi Saw. melarang  menghimpun
    dalam saat yang sama lebih dari empat orang istri bagi seorang
    pria. Ketika turunnya ayat  ini,  beliau  memerintahkan  semua
    yang  memiliki  lebih  dari  empat  orang  istri,  agar segera
    menceraikan istri-istrinya  sehingga  maksimal,  setiap  orang
    hanya   memperistrikan   empat   orang   wanita.  Imam  Malik,
    An-Nasa'i, dan  Ad-Daraquthni  meriwayatkan  bahwa  Nabi  Saw.
    bersabda  kepada  Sailan bin Umayyah, yang ketika itu memiliki
    sepuluh orang istri.

        Pilihlah dari mereka empat oranq (istri) dan ceraikan
        selebihnya.

    Di sisi  1ain  ayat  ini  pula  yang  menjadi  dasar  bolehnya
    poligami. Sayang ayat ini sering disalahpahami. Ayat ini turun
    --sebagaimana  diuraikan  oleh  istri   Nabi   Aisyah   r.a.--
    menyangkut   sikap   sementara   orang  yang  ingin  mengawini
    anak-anak yatim  yang  kaya  lagi  cantik,  dan  berada  dalam
    pemeliharaannya,  tetapi tidak ingin memberinya mas kawin yang
    sesuai serta  tidak memperlakukannya  secara  adil.  Ayat  ini
    melarang  hal tersebut dengan satu susunan kalimat yang sangat
    tegas. Penyebutan  "dua,  tiga  atau  empat"  pada  hakikatnya
    adalah  dalam  rangka  tuntutan  berlaku  adil  kepada mereka.
    Redaksi ayat ini mirip dengan ucapan seseorang  yang  melarang
    orang  1ain  memakan  makanan  tertentu,  dan untuk menguatkan
    larangan itu dikatakannya, "Jika Anda khawatir akan sakit bila
    makan  makanan  ini, maka habiskan saja makanan selainnya yang
    ada di hadapan Anda selama Anda tidak khawatir  sakit".  Tentu
    saja  perintah  menghabiskan  makanan  yang lain hanya sekadar
    untuk menekankan larangan memakan makanan tertentu itu.

    Perlu juga digarisbawahi bahwa ayat ini,  tidak  membuat  satu
    peraturan  tentang poligami, karena poligami telah dikenal dan
    dilaksanakan oleh syariat agama dan adat istiadat sebelum ini.
    Ayat  ini juga tidak mewajibkan poligami atau menganjurkannya,
    dia hanya berbicara tentang bolehnya  poligami,  dan  itu  pun
    merupakan  pintu  darurat  kecil, yang hanya dilalui saat amat
    diperlukan dan dengan syarat yang tidak ringan.

    Jika demikian halnya, maka pembahasan tentang  poligami  dalam
    syariat  Al-Quran,  hendaknya  tidak  ditinjau dari segi ideal
    atau baik  dan  buruknya,  tetapi  harus  dilihat  dari  sudut
    pandang  pengaturan  hukum,  dalam  aneka kondisi yang mungkin
    terjadi.

    Adalah  wajar  bagi  satu  perundangan  --apalagi  agama  yang
    bersifat  universal  dan  berlaku  setiap  waktu dan kondisi--
    untuk mempersiapkan ketetapan hukum yang  boleh  jadi  terjadi
    pada  satu  ketika,  walaupun  kejadian  itu  hanya  merupakan
    "kemungkinan".

    Bukankah kemungkinan mandulnya seorang istri, atau terjangkiti
    penyakit  parah,  merupakan  satu kemungkinan yang tidak aneh?
    Apakah jalan keluar bagi seorang suami  yang  dapat  diusulkan
    untuk  menghadapi  kemungkinan  ini?  Bagaimana ia menyalurkan
    kebutuhan biologis atau memperoleh dambaannya  untuk  memiliki
    anak?  Poligami  ketika  itu  adalah  jalan yang paling ideal.
    Tetapi sekali lagi  harus  diingat  bahwa  ini  bukan  berarti
    anjuran,    apalagi    kewajiban.    Itu   diserahkan   kepada
    masing-masing menurut pertimbangannya. Al-Quran hanya  memberi
    wadah   bagi   mereka   yang   menginginkannya.  Masih  banyak
    kondisi-kondisi selain yang disebut ini, yang  juga  merupakan
    alasan   logis  untuk  tidak  menutup  pintu  poligami  dengan
    syaratsyarat yang tidak ringan itu.

    Perlu juga dijelaskan bahwa  keadilan  yang  disyaratkan  oleh
    ayat  yang  membolehkan  poligami  itu,  adalah keadilan dalam
    bidang material.  Surat  Al-Nisa'  [4]:  129  menegaskan  juga
    bahwa,

        Kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di
        antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin
        berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu
        cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu
        biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu
        mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari
        kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun
        lagi Maha Penyayang.

    Keadilan  yang  dimaksud  oleh  ayat  ini,  adalah keadilan di
    bidang imaterial (cinta). Itu sebabnya hati  yang  berpoligami
    dilarang   memperturutkan   hatinya   dan  berkelebihan  dalam
    kecenderungan kepada yang dicintai. Dengan  demikian  tidaklah
    tepat  menjadikan  ayat  ini sebagai dalih untuk menutup pintu
    poligami serapat-rapatnya.

    SYARAT SAH PERNIKAHAN

    Untuk sahnya pernikahan, para ulama  telah  merumuskan  sekian
    banyak   rukun  dan  atau  syarat,  yang  mereka  pahami  dari
    ayat-ayat Al-Quran maupun hadis-hadis Nabi Saw.

    Adanya calon suami dan istri, wali,  dua  orang  saksi,  mahar
    serta terlaksananya ijab dan kabul merupakan rukun atau syarat
    yang rinciannya  dapat  berbeda  antara  seorang  ulama/mazhab
    dengan mazhab 1ain; bukan di sini tempatnya untuk diuraikan.

    Calon   istri  haruslah  seorang  yang  tidak  sedang  terikat
    pernikahan dengan pria lain, atau tidak dalam  keadaan  'iddah
    (masa  menunggu)  baik  karena  wafat  suaminya, atau dicerai,
    hamil, dan tentunya tidak pula termasuk mereka yang  terlarang
    dinikahi, sebagaimana disebutkan di atas.

    Wali dari pihak calon suami tidak diperlukan, tetapi wali dari
    pihak calon istri dinilai mutlak keberadaan dan  izinnya  oleh
    banyak ulama berdasar sabda Nabi Saw.

        Tidak sah nikah kecuali dengan (izin) wali.

    Al-Quran   mengisyaratkan   hal  ini  dengan  firman-Nya  yang
    ditujukan kepada para wali:

        ... Janganlah kamu (hai para wali) menghalangi mereka
        (wanita yang telah bercerai) untuk kawin (lagi) dengan
        baka1 suaminya, jika terdapat kerelaan di antara mereka
        dengan cara yang makruf (QS Al-Baqarah [2]: 232).

    Menurut sementara ulama seperti Imam Syafi'i dan Imam  Maliki,
    "Seandainya mereka tidak mempunyai hak kewalian, maka larangan
    ayat di atas tidak ada artinya," dan karena itu pula  terhadap
    para wali ditujukan firman Allah.

        Janganlah kamu menikahkan (mengawinkan) orang-orang
        musyrik (dengan wanita-wanita mukminah) sebelum mereka
        beriman (QS Al-Baqarah [2]: 221).

    Sedang ketika Al-Quran berbicara kepada kaum pria nyatakannya,

        Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum
        mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin
        lebih baik dari wanita musyrik walaupun ia menarik
        hatimu (QS AlBaqarah [2]: 221).

    Ada  juga  ulama lain semacam Abu Hanifah, Zufar, Az-zuhri dan
    1ain-lain  yang  berpendapat  bahwa  apabila  seorang   wanita
    menikah  tanpa  wali  maka  nikahnya sah, selama pasangan yang
    dikawininya sekufu' (setara) dengannya. Mereka  yang  menganut
    paham ini berpegang pada isyarat Al-Quran:

        Apabila telah habis masa iddahnya (wanita-wanita yang
        suaminya meninggal), maka tiada dosa bagi kamu (hai
        para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri
        mereka menurut yang patut (QS Al-Baqarah [2): 234).

    Ayat  di  atas, menurut penganut paham ini, mengisyaratkan hak
    wanita bebas melakukan apa  saja  yang  baik  --bukan  sekadar
    berhias,   bepergian,  atau  menerima  pinangan--  sebagaimana
    pendapat yang mengharuskan adanya wali, tetapi  termasuk  juga
    menikahkan  diri  mereka  tanpa  wali.  Di  samping  itu, kata
    penganut paham ini, Al-Quran juga --dan bukan  hanya  sekali--
    menisbahkan   aktivitas  menikah  bagi  para  wanita,  seperti
    misalnya firman-Nya,

        Sampai dia menikah dengan suami yang la~n (QS
        Al-Baqarah [2]: 230).

    Perlu digarisbawahi bahwa ayat-ayat  di  atas  yang  dijadikan
    alasan  oleh  mereka  yang  tidak  mensyaratkan  adanya  wali,
    berbicara  tentang  para  janda,  sehingga  kalaupun  pendapat
    mereka  dapat diterima maka ketiadaan wali itu terbatas kepada
    para janda, bukan gadis-gadis. Pandangan ini  dapat  merupakan
    jalan  tengah  antara kedua pendapat yang bertolak belakang di
    atas.

    Hemat penulis adalah amat bijaksana untuk  tetap  menghadirkan
    wali,  baik  bagi  gadis  maupun janda. Hal tersebut merupakan
    sesuatu yang amat penting karena "seandainya  terjadi  hal-hal
    yang tidak diinginkan", maka ada sandaran yang dapat dijadikan
    rujukan.  Ini  sejalan  dengan  jiwa  perintah  Al-Quran  yang
    menyatakan,   "Nikahilah  mereka  atas  izin  keluarga  (tuan)
    mereka." (QS  Al-Nisa'  [4]:  25).  Walaupun  ayat  ini  turun
    berkaitan dengan budak-budak wanita yang boleh dikawini.

    Hal  kedua yang dituntut bagi terselenggaranya pernikahan yang
    sah  adalah  saksi-saksi.  Penulis  tidak  menemukan  hal  ini
    disinggung  secara  tegas  oleh Al-Quran, tetapi sekian banyak
    hadis menyinggungnya.  Kalangan  ulama  pun  berbeda  pendapat
    menyangkut  kedudukan  hukum  para  saksi.  Imam  Abu Hanifah,
    Syafi'i,   dan   Maliki   mensyaratkan   adanya    saksi-saksi
    pernikahan,  hanya  mereka  berbeda  pendapat apakah kesaksian
    tersebut  merupakan  syarat   kesempurnaan   pernikahan   yang
    dituntut.    Sebelum    pasangan   suami   istri   "bercampur"
    (berhubungan  seks)  atau  syarat  sahnya   pernikahan,   yang
    dituntut kehadiran mereka saat akad nikah dilaksanakan.

    Betapapun  perbedaan  itu,  namun  para ulama sepakat melarang
    pernikahan yang dirahasiakan, berdasarkan perintah Nabi  untuk
    menyebarluaskan berita pernikahan. Bagaimana kalau saksi-saksi
    itu diminta untuk merahasiakan pernikahan  itu?  Imam  Syafi'i
    dan  Abu  Hanifah  menilainya  sah-sah saja, sedang Imam Malik
    menilai bahwa  syarat  yang  demikian  membatalkan  pernikahan
    {fasakh).  Perbedaan  pendapat  ini lahir dari analisis mereka
    tentang fungsi para saksi,  apakah  fungsi  mereka  keagamaan,
    atau  semata-mata  tujuannya  untuk menutup kemungkinan adanya
    perselisihan pendapat. Demikian penjelasan  Ibnu  Rusyd  dalam
    bukunya Bidayat Al-Mujtahid.

    Dalam   konteks  ini  terlihat  betapa  pentingnya  pencatatan
    pernikahan yang ditetapkan  melalui  undang-undang,  namun  di
    sisi  lain pernikahan yang tidak tercatat selama ada dua orang
    saksi-tetap dinilai sah oleh agama.  Bahkan  seandainya  kedua
    saksi   itu   diminta   untuk   merahasiakan  pernikahan  yang
    disaksikannya itu, maka pernikahan  tetap  dinilai  sah  dalam
    pandangan pakar hukum Islam Syafi'i dan Abu Hanifah.

    Namun   demikian,   menurut   hemat   penulis,  dalam  konteks
    keindonesiaan,  walaupun  pernikahan  demikian   dinilai   sah
    menurut  hukum  agama,  namun perkawinan di bawah tangan dapat
    mengakibatkan dosa  bagi  pelaku-pelakunya,  karena  melanggar
    ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah dan DPR (Ulil Amri).
    Al-Quran memerintahkan setiap Muslim untuk menaati  Ulil  Amri
    selama  tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Dalam hal
    pencatatan tersebut, ia bukan saja tidak bertentangan,  tetapi
    justru sangat sejalan dengan semangat Al-Quran.

    Hal ketiga dalam konteks perkawinan adalah mahar.

    Secara  tegas  Al-Quran memerintahkan kepada calon suami untuk
    membayar mahar.

        Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita-wanita (yang
        kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelann (QS
        A1-Nisa' [4]: 4).

    Suami berkewajiban menyerahkan mahar  atau  mas  kawin  kepada
    calon istrinya.

    Mas  kawin  adalah  lambang kesiapan dan kesediaan suami untuk
    memberi nafkah lahir kepada istri dan anak-anaknya, dan selama
    mas  kawin  itu  bersifat  lambang,  maka sedikit pun jadilah.
    Bahkan:

        Sebaik-baik mas kawin adalah seringan-ringannya.

    Begitu sabda Nabi Saw., walaupun Al-Quran tidak melarang untuk
    memberi  sebanyak mungkin mas kawin (QS Al-Nisa' [4]: 20). Ini
    karena pernikahan bukan akad jual beli, dan mahar bukan  harga
    seorang  wanita. Menurut Al-Quran, suami tidak boleh mengambil
    kembali mas kawin itu, kecuali bila istri merelakannya.

        "Apakah kalian (hai para suami) akan mengambilnya
        kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan
        menanggung dosa yang nyata? Bagaimana kamu akan
        mengambilnya kembali padahal sebagian kamu (suami atau
        istri) te1ah melapangkan (rahasianya/bercampur) dengan
        sebagian yang lain (istri atau suami) dan mereka (para
        istri) telah mengambil dari kamu perjanjian yang amat
        kokoh (QS Al-Nisa' [4]: 20-2l).

    Agama menganjurkan  agar  mas  kawin  merupakan  sesuatu  yang
    bersifat  materi, karena itu bagi orang yang tidak memilikinya
    dianjurkan untuk menangguhkan perkawinan  sampai  ia  memiliki
    kemampuan.  Tetapi kalau oleh satu dan lain hal, ia harus juga
    kawin, maka cincin besi pun jadilah.

        Carilah walau cincin dari besi.

    Begitu sabda Nabi Saw. Kalau ini pun tidak dimilikinya  sedang
    perkawinan  tidak  dapat  ditangguhkan lagi, baru mas kawinnya
    boleh berupa mengajarkan beberapa  ayat  Al-puran.  Rasulullah
    pernah bersabda,

        Telah saya kawinkan engkau padanya dengan apa yang
        engkau miliki dari Al-Quran. (Diriwayatkan oleh Bukhari
        dan Muslim melalui Sahal bin Sa'ad).

    Adapun  ijab  dan  kabul  pernikahan,  maka ia pada hakikatnya
    adalah ikrar dari calon istri, melalui walinya, dan dari calon
    suami   untuk  hidup  bersama  seia  sekata,  guna  mewujudkan
    keluarga sakinah, dengan  melaksanakan  segala  tuntunan  dari
    kewajiban.  Ijab seakar dengan kata wajib, sehingga ijab dapat
    berarti: atau paling tidak "mewujudkan suatu kewajiban"  yakni
    berusaha  sekuat  kemampuan  untuk membangun satu rumah tangga
    sakinah. Penyerahan disambut dengan  qabul  (penerimaan)  dari
    calon suami.

  

Wawasan Al-Qur'an
Bab Pernikahan

oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

    PERNIKAHAN                                               (3/3)

    Untuk  menguatkan ikrar, maka serah terima itu dalam pandangan
    Imam Syafi'i tidak  sah  kecuali  jika  menggunakan  apa  yang
    diistilahkan oleh Nabi Saw. dengan Kalimat Allah, yaitu dengan
    sabdanya:

        "Hubungan seks kalian menjadi halal atas dasar kalimat
        Allah."

    Kalimat Allah yang dimaksud adalah kedua  lafaz  (kata)  nikah
    dan   zawaj   (kawin)  yang  digunakan  Al-Quran.  Imam  Malik
    membolehkanjuga kata "memberi" sebagai  terjemahan  dari  kata
    wahabat  sebagaimana  disinggung pada pendahuluan. Ulama-ulama
    ini tidak menilai sah lafaz ijab  dan  kabul  yang  mengandung
    "kepemilikan",   "penganugerahan",   dan   sebagainya,  karena
    kata-kata tersebut tidak digunakan  Al-Quran  sekaligus  tidak
    mencerminkan  hakikat  hubungan  suami  istri yang dikehendaki
    oleh-Nya. Hubungan suami istri bukanlah  hubungan  kepemilikan
    satu  pihak  atas  pihak  lain,  bukan  juga  penyerahan  diri
    seseorang kepada suami, karena  itu  sungguh  tepat  pandangan
    yang tidak menyetujui lafaz mahabat (penganugerahan) digunakan
    dalam  akad  pernikahan.  Hubungan  tersebut  adalah  hubungan
    kemitraan  yang  diisyaratkan  oleh  kata  zauwj  yang berarti
    pasangan.  Suami  adalah   pasangan   istri,   demikian   pula
    sebaliknya.  Kata  ini memberi kesan bahwa suami sendiri belum
    lengkap, istri pun demikian. Persis seperti  rel  kereta  api,
    bila  hanya  satu  re1  saja  kereta  tak dapat berjalan, atau
    katakanlah bagaikan sepasang anting  di  telinga,  bila  hanya
    sebelah maka ia tidak berfungsi sebagai perhiasan.

    Mengawinkan  pria  dan  wanita adalah menghimpunnya dalam satu
    wadah  perkawinan,  sehingga   wajar   jika   upaya   tersebut
    dilukiskan  oleh  Al-Quran  dengan  menggunakan kata "menikah"
    yang  pengertian  kebahasaannya   seperti   dikemukakan   pada
    pendahuluan adalah "menghimpun".

    Bahwa  Al-Quran  menggunakan  kata  wahabat khusus kepada Nabi
    Saw. adalah merupakan satu hal yang wajar,  karena  siapa  pun
    dari umatnya wajar untuk melebur keinginannya demi kepentingan
    Nabi Saw.

        Demi Allah, kalian tidak beriman (secara sempurna)
        sampai patuh keinginan hati kalian terhadap apa yang
        kusampaikan.

    Demikian sabda Nabi  Saw.  Dalam  kesempatan  yang  lain  Nabi
    bersabda:

        Salah seorang di antara kamu tidak beriman, sehingga
        dia mencintai aku lebih dari cintanya terhadap orang
        tuanya, anaknya dan seluruh manusia (Diriwayatkan oleh
        Bukhari dan Muslim melalui Anas bin Malik).

    Makna ini sejalan dengan firman Allah,

    Nabi (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari pada
    diri mereka sendiri (QS Al-Ahzab [33]: 6).

    Itulah Kalimat Allah dalam hal sahnya perkawinan; kalimat  itu
    sendiri menurut Al-Quran:

        Te1ah sempurna sebagai kalimat yang benar dan adil, dan
        tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya (QS
        Al-An'am [6]: 115).
      
    "Dia  penuh  kebajikan"  (QS  Al-A'raf [7]:  137),  lagi  "Dan
    kalimat  Allah itulah yang Mahatinggi" (QS Al-Tawbah [9): 40).
    Dengan  kalimat  itulah  Allah  menganugerahkan  kepada   Nabi
    Zakaria  yang  telah  berusia  lanjut,  lagi  istrinya mandul,
    "seorang anak  bernama  Yahya  yang  menjadi  panutan,  pandai
    menjaga  diri,  serta  menjadi  Nabi" (QS Ali 'Imran [3]: 39).
    Dengan kalimat itu Allah menciptakan Isa a.s. tanpa ayah,  dan
    diakuinya  sebagai "seorang terkemuka di dunia dan di akherat,
    serta termasuk orang-orang yang didekatkan kepada  Allah"  (QS
    Ali 'Imran [3]: 45).

    Serah terima perkawinan dilakukan dengan  kalimat  Allah  yang
    sifatnya demikian, agar calon suami dan istri menyadari betapa
    suci peristiwa yang sedang mereka alami. Dan dalam  saat  yang
    sama  mereka  berupaya untuk menjadikan kehidupan rumah tangga
    mereka  dinaungi  oleh  makna-makna  kalimat  itu:  kebenaran,
    keadilan,  langgeng  tidak berubah, luhur penuh kebajikan, dan
    dikaruniai anak  yang  saleh,  yang  menjadi  panutan,  pandai
    menahan  diri,  serta  menjadi orang terkemuka di dunia dan di
    akhirat lagi dekat kepada Allah.

    TALI-TEMALI PEREKAT PERNIKAHAN

    Cinta, mawaddah, rahmah dan amanah Allah, itulah  tali  temali
    ruhani  perekat  perkawinan,  sehingga  kalau  cinta pupus dan
    mawaddah putus, masih ada rahmat,  dan  kalau  pun  ini  tidak
    tersisa,  masih  ada amanah, dan selama pasangan itu beragama,
    amanahnya terpelihara, karena Al-Quran memerintahkan,

        Pergaulilah istri-istrimu dengan baik dan apabila kamu
        tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan
        tali perkawinan), karena boleh jadi kamu tidak
        menyenangi sesuatu tetapi Allah menjadikan padanya (di
        balik itu) kebaikan yang banyak (QS Al-Nisa' [4]: l9).

    Mawaddah, tersusun dari huruf-huruf  m-w-d-d-,  yang  maknanya
    berkisar  pada  kelapangan  dan  kekosongan.  Mawaddah  adalah
    kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak  buruk.  Dia
    adalah  cinta  plus. Bukankah yang mencintai, sesekali hatinya
    kesal  sehingga  cintanya  pudar  bahkan  putus.  Tetapi  yang
    bersemai  dalam  hati  mawaddah,  tidak  lagi  akan memutuskan
    hubungan, seperti yang bisa terjadi pada orang yang  bercinta.
    Ini  disebabkan  karena  hatinya begitu lapang dan kosong dari
    keburukan sehingga pintu-pintunya  pun  telah  tertutup  untuk
    dihinggapi keburukan lahir dan batin (yang mungkin datang dari
    pasangannya). Begitu  lebih  kurang  komentar  pakar  Al-Quran
    Ibrahim  Al-Biqa'i  (1480  M)  ketika  menafsirkan  ayat  yang
    berbicara tentang mawaddah.

    Rahmah adalah kondisi psikologis yang  muncul  di  dalam  hati
    akibat  menyaksikan  ketidakberdayaan  sehingga mendorong yang
    bersangkutan  untuk   memberdayakannya.   Karena   itu   dalam
    kehidupan   keluarga,   masing-masing  suami  dan  istri  akan
    bersungguh-sungguh bahkan  bersusah  payah  demi  mendatangkan
    kebaikan bagi pasangannya serta menolak segala yang mengganggu
    dan mengeruhkannya.

    Al-Quran  menggarisbawahi  hal  ini   dalam   rangka   jalinan
    perkawinan  karena  betapapun  hebatnya  seseorang,  ia  pasti
    memiliki kelemahan, dan betapapun  lemahnya  seseorang,  pasti
    ada  juga  unsur kekuatannya. Suami dan istri tidak luput dari
    keadaan demikian, sehingga  suami  dan  istri  harus  berusaha
    untuk saling melengkapi.

        Istri-istri kamu (para suami) adalah pakaian untuk
        kamu, dan kamu adalah pakaian untuk mereka (QS
        Al-Baqarah [2]: 187).

    Ayat  ini  tidak hanya mengisyaratkan bahwa suami-istri saling
    membutuhkan sebagaimana kebutuhan manusia pada pakaian, tetapi
    juga  berarti  bahwa suami istri --orang masing-masing menurut
    kodratnya memiliki kekurangan-- harus dapat berfungsi "menutup
    kekurangan  pasangannya".  sebagaimana  pakaian  menutup aurat
    (kekurangan) pemakainya.

    Pernikahan adalah amanah, digarisbawahi oleh Rasul Saw.  dalam
    sabdanya,

        Kalian menerima istri berdasar amanah Allah.

    Amanah  adalah  sesuatu  yang  diserahkan  kepada  pihak  lain
    disertai   dengan   rasa   aman   dari    pemberinya    karena
    kepercayaannya bahwa apa yang diamanatkan itu, akan dipelihara
    dengan baik, serta keberadaannya aman di  tangan  yang  diberi
    amanat itu.

    Istri  adalah  amanah  di  pelukan  suami, suami pun amanat di
    pangkuan  istri.  Tidak  mungkin  orang   tua   dan   keluarga
    masing-masing  akan  merestui  perkawinan  tanpa  adanya  rasa
    percaya dan aman itu. Suami --demikian juga istri-- tidak akan
    menjalin   hubungan  tanpa  merasa  aman  dan  percaya  kepada
    pasangannya.

    Kesediasn seorang istri untuk  hidup  bersama  dengan  seorang
    lelaki,    meninggalkan    orang-tua    dan    keluarga   yang
    membesarkannya,  dan  "mengganti"  semua  itu   dengan   penuh
    kerelaan  untuk  hidup  bersama  lelaki  "asing"  yang menjadi
    suaminya, serta bersedia membuka rahasianya yang paling dalam.
    Semua itu merupakan hal yang sungguh mustahil, kecuali jika ia
    merasa yakin bahwa kebahagiannnya  bersama  suami  akan  lebih
    besar  dibanding  dengan  kebahagiaannya dengan ibu bapak, dan
    pembelaan suami terhadapnya tidak lebih sedikit dari pembelaan
    saudara-saudara sekandungnya. Keyakinan inilah yang dituangkan
    istri  kepada  suaminya  dan  itulah  yang  dinamai   Al-Quran
    mitsaqan  ghalizha  (perjanjian  yang amat kokoh) (QS Al-Nisa'
    [4): 21).

    SUAMI ADALAH PEMIMPIN KELUARGA

    Keluarga, atau katakanlah unit terkecil dari  keluarga  adalah
    suami  dan  istri,  atau ayah, ibu, dan anak, yang bernaung di
    bawah satu rumah tangga. Unit  ini  memerlukan  pimpinan,  dan
    dalam pandangan Al-Quran yang wajar memimpin adalah bapak.

        Kaum lelaki (suami) adalah pemimpin bagi kaum perempuan
        (istri) (QS Al-Nisa' [4]: 34).

    Ada   dua  alasan  yang  dikemukakan  lanjutan  ayat  di  atas
    berkaitan dengan pemilihan ini, yaitu:

    a. Karena Allah melebihkan sebagian mereka atas
       sebagian yang lain, dan

    b. Karena mereka (para suami diwajibkan) untuk
       menafkahkan sebagian dari harta mereka (untuk
       istri/keluarganya).

    Alasan kedua agaknya cukup logis.  Bukankah  di  balik  setiap
    kewajiban   ada   hak?   Bukankah   yang  membayar  memperoleh
    fasilitas?

    Adapun alasan pertama, maka ini berkaitan dengan faktor psikis
    lelaki  dan  perempuan.  Sementara  psikolog berpendapat bahwa
    perempuan berjalan di bawah bimbingan perasaan, sedang  lelaki
    di  bawah  pertimbangan  akal.  Walaupun kita sering mengamati
    bahwa  perempuan  bukan  saja  menyamai   lelaki   da1am   hal
    kecerdasan,  bahkan  terkadang melebihinya. Keistimewaan utama
    wanita adalah pada perasaannya yang sangat halus. Keistimewaan
    ini amat diperlukan dalam memelihara anak. Sedang keistimewaan
    utama  lelaki  adalah  konsistensinya  serta  kecenderungannya
    berpikir   secara  praktis.  Keistimewaan  ini  menjadikan  ia
    diserahi tugas kepemimpinan rumah tangga.

        Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan
        kewajibannya menurut cara yang makruf akan tetapi para
        suami mempunyai satu derajat kelebihan atas mereka
        (para istri)". (QS A1-Baqarah [2]: 228).

    Derajat itu adalah kelapangan  dada  suami  terhadap  istrinya
    untuk  meringankan sebagian kewajiban istri. Karena itu, tulis
    Syaikh  Al-Mufasirin   (Guru   besar   para   penafsir)   Imam
    Ath-Thabari,  "Walau  ayat  ini  disusun dalam redaksi berita,
    tetapi  maksudnya  adalah  anjuran  bagi  para   suami   untuk
    memperlakukan istrinya dengan sifat terpuji, agar mereka dapat
    memperoleh derajat itu."

    Imam  Al-Ghazali  menulis,  "Ketahuilah  bahwa  yang  dimaksud
    dengan   perlakuan   baik   terhadap   istri,  bukanlah  tidak
    mengganggunya,  tetapi  bersabar  dalam  kesalahannya,   serta
    memperlakukannya   dengan   kelembutan   dan   maaf,  saat  ia
    menumpahkan emosi dan kemarahannya."

    "Keberhasilan perkawinan tidak  tercapai  kecuali  jika  kedua
    belah  pihak  memperhatikan  hak  pihak  lain.  Tentu saja hal
    tersebut banyak,  antara  lain  adalah  bahwa  suami  bagaikan
    pemerintah,   dan   dalam   kedudukannya   seperti   itu,  dia
    berkewajiban untuk memperhatikan hak dan kepentingan rakyatnya
    (istrinya).   Istri   pun  berkewajiban  untuk  mendengar  dan
    mengikutinya, tetapi di  sisi  lain  perempuan  mempunyai  hak
    terhadap  suaminya untuk mencari yang terbaik ketika melakukan
    diskusi."  Demikian  lebih  kurang  tulis  Al-Imam  Fakhruddin
    Ar-Razi.

    Sekali  lagi, kepemimpinan tersebut adalah keistimewaan tetapi
    sekaligus tanggung jawab yang tidak kecil.

    Kalau titik temu dalam musyawarah  tidak  diperoleh,  sehingga
    keretakan  hubungan dikhawatirkan terjadi, maka barulah keluar
    kamar menghubungi orang-tua atau  orang  yang  dituakan  untuk
    meminta  nasihatnya,  atau  bahkan  barulah  diharapkan campur
    tangan orang bijak untuk menyelesaikannya. Dalam  konteks  ini
    Al-Quran berpesan,

        Jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara
        keduanya, maka utuslah seorang hakam (juru damai) dari
        keluarga laki-laki, dan seorang hakam dari ke1uarga
        perempuan. Jika keduanya (suami istri dan para hakam)
        ingin mengadakan perbaikan, niscapa Allah memberi
        bimbingan kepada keduanya (suami istri). Sesungguhnya
        Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al-Nisa'
        [4]: 35).

    TUJUAN PERKAWINAN

    Sepintas boleh jadi ada yang berkata, apalagi muda mudi, bahwa
    "pemenuhan   kebutuhan   seksual   merupakan   tujuan    utama
    perkawinan,   dan   dengan  demikian  fungsi  utamanya  adalah
    reproduksi".

    Benarkah    demikian?    Baiklah    terlebih    dahulu    kita
    menggarisbawahi  bahwa  dalam  pandangan  ajaran  Islam,  seks
    bukanlah sesuatu yang kotor  atau  najis,  tetapi  bersih  dan
    harus  selalu  bersih.  Mengapa  kotor,  atau perlu dihindari,
    sedang Allah sendiri  yang  memerintahkannya  secara  tersirat
    melalui  law  of sex, bahkan secara tersurat antara lain dalam
    surat Al-Baqarah (2): 187,

        Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan
        nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi
        maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka
        (istri-istrimu), dan carilah apa yang ditetapkan Allah
        untukmu.

    Dalam ayat lain Allah berfirman:

        Istri-istri kamu adalah ladang (tempat bercocok tanam)
        untukmu, maka datangilah (garaplah) ladang kamu
        bagaimana~ saja kamu kehendaki (QS Al-Baqarah [2]:
        223).

    Karena hubungan seks  harus  bersih,  maka  hubungan  tersebut
    harus  dimulai  dan  dalam  suasana  suci  bersih; tidak boleh
    dilakukan dalam keadaan kotor, atau situasi kekotoran.  Karena
    itu,   Rasulullah  Saw.  menganjurkan  agar  berdoa  menjelang
    hubungan seks dimulai.

    Beberapa ayat Al-Quran sangat menarik untuk direnungkan  dalam
    konteks pembicaraan kita ini adalah:

        (Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi
        kamu dan jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dan
        jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula,
        dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan cara itu ...
        Tidak ada sesuatu pun yang serupa denan Dia, dan Dia
        Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS Al-Syura
        [42]: 11).

    Binatang ternak berpasangan untuk berkembang biak, manusia pun
    demikian, begitu pesan ayat di atas. Tetapi dalam ayat di atas
    tidak  disebutkan  kalimat  mawaddah  dan  rahmah, sebagaimana
    ditegaskan  ketika  Al-Quran   berbicara   tetang   pernikahan
    manusia.

        Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Allah
        adalah Dia menciptakan dari jenismu pasangan-pasangan
        agar kamu (masing-masing) memperoleh ketenteraman dari
        (pasangan)-nya, dari dijadikannya di antara kamu
        mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya yang demikian itu
        benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang
        berpikir (QS Al-Rum [30]: 21).

    Mengapa  demikian?  Tidak  lain  karena  manusia  diberi tugas
    oleh-Nya untuk membangun peradaban, yaitu manusia diberi tugas
    untuk menjadi khalifah di dunia ini.

    Cinta  kasih,  mawaddah  dan  rahmah  yang dianugerahkan Allah
    kepada sepasang suami istri adalah untuk satu tugas yang berat
    tetapi mulia. Malaikat pun berkeinginan untuk melaksanakannya,
    tetapi kehormatan itu diserahkan Allah kepada manusia.

    Demikian sekilas pandangan Al-Quran tentang pernikahan,  tentu
    saja  lembaran  kecil  ini tidak menggambarkan secara sempurna
    wawasan  Kitab  Suci  itu,  namun  paling   tidak   apa   yang
    dikemukakan di atas diharapkan dapat memberikan gambaran umum.
    Semoga.[]

    CATATAN KAKI

    1 Kata utuw, dalam berbagai bentuknya terulang didalam
      Al-Quran sebanyak 32 kali. Al-Quran menggunakannya
      untuk anugerah yang agung berupa ilmu atau Kitab Suci.

    2 Mahmud Syaltut l959: 253.

    ----------------
    WAWASAN AL-QURAN
    Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
    Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
    Penerbit Mizan
    Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
    Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038
    mailto:mizan@ibm.net

Tidak ada komentar: