Minggu, 12 Juni 2011

cerai / talak dalam keadaan marah

HUKUM MENJATUHKAN TALAK DALAM KEADAAN MARAH. 1.

Tanya :

Ustadz, bagaimana hukumnya suami menjatuhkan talak dalam keadaan marah? Apakah jatuh talaknya?



Jawab :

Menurut Wahbah Zuhaili marah (ghadhab) ada dua. Pertama, marah biasa yang tak sampai menghilangkan kesadaran atau akal, sehingga orang masih menyadari ucapan atau tindakannya. Kedua, marah yang sangat yang menghilangkan kesadaran atau akal, sehingga seseorang tak menyadari lagi ucapan atau tindakannya, atau marah sedemikian rupa sehingga orang mengalami kekacauan dalam ucapan dan tindakannya. (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 9/343).

Para fuqaha sepakat jika suami menjatuhkan talak dalam keadaan marah yang sangat (kategori kedua), talaknya tidak jatuh. Sebab ia dianggap bukan mukallaf karena hilang akalnya (za`il al-aql), seperti orang tidur atau gila yang ucapannya tak bernilai hukum. Dalilnya sabda Nabi SAW,"Diangkat pena (taklif) dari umatku tiga golongan : anak kecil hingga baligh, orang tidur hingga bangun, dan orang gila hingga waras." (HR Abu Dawud no 4398). (Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, 5/215; Sayyid Al-Bakri, I’anah al-Thalibin, 4/5; Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 9/343; Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 29/9).

Namun fuqaha berbeda pendapat mengenai talak yang diucapkan dalam keadaan marah biasa (thalaq al-ghadbaan). Pertama, menurut ulama mazhab Hanafi dan sebagian ulama mazhab Hambali talak seperti itu tak jatuh. Kedua, menurut ulama mazhab Maliki, Hambali, dan Syafi’i, talaknya jatuh. (Hani Abdullah Jubair, Thalaq al-Mukrah wa al-Ghadbaan, hal. 19; Ibnul Qayyim, Ighatsatul Lahfan fi Hukm Thalaq al-Ghadban, hal. 61).

Pendapat pertama antara lain berdalil dengan hadits ‘A`isyah RA bahwa Nabi SAW bersabda,"Tak ada talak dan pembebasan budak dalam keadaan marah (laa thalaqa wa laa ‘ataqa fi ighlaq)." (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah). (Musthofa Al-‘Adawi, Ahkam Al-Thalaq fi al-Syari’ah al-Islamiyah, hal. 61).

Pendapat kedua antara lain berdalil dengan riwayat Mujahid, bahwa Ibnu Abbas RA didatangi seorang lelaki yang berkata,"Saya telah menjatuhkan talak tiga kali pada isteriku dalam keadaan marah." Ibnu Abbas menjawab,"Aku tak bisa menghalalkan untukmu apa yang diharamkan Allah. Kamu telah mendurhakai Allah dan isterimu telah haram bagimu." (HR Daruquthni, 4/34). (Hani Abdullah Jubair, Thalaq al-Mukrah wa al-Ghadbaan, hal. 24).

Menurut kami, yang rajih (kuat) adalah pendapat kedua, yakni talak oleh suami dalam keadaan marah tetap jatuh talaknya. Alasannya, hadits ‘A`isyah RA meski menyebut talak orang yang marah tak jatuh, tapi yang dimaksud sebenarnya bukan sekedar marah (marah biasa), melainkan marah yang sangat. Imam Syaukani menukilkan perkataan Ibnu Sayyid, bahwa kalau marah dalam hadits itu diartikan marah biasa, tentu tidak tepat. Sebab mana ada suami yang menjatuhkan talak tanpa marah. (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1335).

Kesimpulannya, suami yang menjatuhkan talak dalam keadaan marah dianggap tetap jatuh talaknya. Sebab kondisi marah tidak mempengaruhi keabsahan tasharruf (tindakan hukum) yang dilakukannya, termasuk mengucapkan talak. Kecuali jika kemarahannya mencapai derajat marah yang sangat, maka talaknya tidak jatuh. Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 12 Nopember 2010

Muhammad Shiddiq Al-Jawi
sumber > http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=790&Itemid=33



Talak dalam Keadaan Marah. 2.



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Suami saya baru-baru ini marah sekali kepada saya, karena saya melakukan suatu hal yang tidak disukainya (bukan perbuatan maksiat). Di puncak kemarahannya ia mengatakan, ”Mulai saat ini kamu saya talak tiga kali.”

Peristiwa itu terjadi pada pagi hari menjelang suami saya pergi ke kantor. Sepulang dari kantor suami saya meminta maaf pada saya dan ingin mencabut ucapannya. Saya katakan kepadanya bahwa sejak ucapan itu keluar, saya bukan istrimu lagi. Suami saya betul-betul menyesali perkataannya, dan saya pun tidak pernah menyangka jika hal itu sampai terjadi. Terus terang saya masih mencintainya, demikian juga suami saya. Sampai saat ini saya masih serumah, tapi saya takut berhubungan badan dengannya.

Ustadz, tolong berikan kami jalan keluar atas masalah yang kami hadapi ini. Terima kasih atas bimbingannya.
DH, Jakarta

Jawab
Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
Dalam suatu Hadits, Rasulullah Shallallahu ’alahi wa salam (SAW) bersabda, ”Sesuatu yang halal yang paling dibenci Allah adalah talak.” Artinya, meskipun hukumnya halal, sesungguhnya talak merupakan perbuatan yang dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Karena itu, hapuskan memori tentang talak dalam kamus hidup kita. Sekali menikah untuk selamanya, kecuali jika keadaannya sudah sangat darurat. Rasulullah SAW bersabda, ”Laknat Allah kepada orang yang sering menikah dan sering mengucapkan kaya “talak”.

Nasihat kami kepada suami ibu, jangan mudah mengatakan kata “talak”, baik untuk tujuan menakut-nakuti istri maupun sekadar gurauan saja. Perkataan talak itu serius dan sakral, setimbang dengan perkataan akad nikah yang diucapkan di awal pernikahan. Dengan perkataan sederhana berupa akad nikah itu, Allah SWT menghalalkan seorang perempuan untuk digauli. Demikian halnya dengan talak, dengan kalimat pendek saja, seorang istri yang sebelumnya halal menjadi haram kembali.
Nasihat kami kepada ibu, jangan mudah memancing kemarahan suami. Istri yang baik adalah yang taat pada suami, yang memahami hal-hal yang disukai dan dibenci suami, yang bisa menenangkan suami, baik dikala marah maupun sedih. Kami tidak tahu, apa penyebab kemarahan suami Anda, tapi sebagai istri sebaiknya Anda dapat menenangkannya sebelum kemarahannya memuncak seperti itu.

Lalu bagaimana solusinya? Kami terpaksa mengambil jalan yang paling mudah di antara pendapat madzab ahlus-sunnah wal jama’ah, yaitu pendapatnya Imam Hanafi. Beliau berpendapat bahwa salah satu persyaratan jatuhnya talak adalah si suami sadar apa yang diucapkannya dan dia benar-benar menginginkannya. Karenanya, orang yang dalam keadaan marah, menurut pendapat Imam Hanafi tidak jatuh talaknya. Orang yang marah sering kehilangan kendali, bahkan kehilangan akal sehatnya. Dalam keadaan seperti itu, segala keputusannya tidak berlaku.

Kami tidak tahu pasti bagaimana keadaan suami ibu saat kejadian tersebut, tapi kami yakin bahwa suami ibu tidak bersungguh-sungguh berniat menjatuhkan talak kepada ibu. Akal sehat suami ibu telah dikuasai sepenuhnya oleh amarah yang tak terbendung. Buktinya, tidak berselang lama ia menyesal, meminta maaf, lalu mencabut kembali perkataannya.

Menurut pendapat yang lebih moderat lagi, jika suami ibu masih memahami dan menyadari arti kata-kata talak yang diucapkannya, tapi saat itu benar-benar dikuasai oleh kemarahannya, maka jatuhlah satu talak raj’i. Suami Anda masih boleh ruju’ kembali. Di sini masih ada catatan, bilamana perkataan tersebut tidak diucapkan tiga kali, melainkana hanya sekali ungkapan.

Semoga Allah SWT mengembalikan rumah tangga ibu lebih harmonis lagi. sumber > suara hidayatullah mei 2010

Tidak ada komentar: