Kamis, 02 Juni 2011

ada apa dengan nikah sirri ?

Pernikahan sirri di masyarakat kita adalah pernikahan yang memenuhi syarat rukunnya namun tidak dicatat pejabat pencatatan yang sah, seperti Kantor urusan Agama (KUA).

Istilah sirri dalam tradisi pernikahan kita adalah pernikahan yang dilakukan tertutup, tidak di catatkan namun tetap mengacu pada rukun dan persyaratan pernikahan yang ada. Sebab pengertian sirri sendiri adalah menyembunyikan atau merahasiakan. Menurut Imam Abu Nashr Ismail bin Hammad Al-Jauhar (wafat tahun 393 Hijriyah) dalam As-Shihah, sirri bermakna alladzi yuktamu yang artinya sesuatu yang disembunyikan atau yang disamarkan.


Perkawinan sirri tentu saja bertentangan dengan maksud dan tujuan pernikahan itu sendiri yang bertujuan melindungi pasangan tersebut. Rasulullah sendiri mengharuskan pernikahan untuk diumumkan dan bahkan diperboehkan menggunakan tabuhan (dufuf). Pernikahan yang disembunyikan akan menimbulkan fitnah. Harus ada pengumuman bahwa seorang laki-laki telah menikahi seorang perempuan sehingga semua orang tahu dan tidak menimbulkan fitnah atau tuduhan-tuduhan zina di kemudian hari.

Pernikahan sirri di masyarakat kita adalah pernikahan yang memenuhi syarat rukunnya namun tidak dicatat pejabat pencatat nikah yang sah, seperti Kantor Urusan Agama (KUA). Pernikahan kadangkala hanya dihadiri kerabat saja dengan sedikit tetangga. Kadangkala mengundang seorang ulama untuk lebih memberi nuansa absah dalam perkawinan itu.

Mengapa terjadi pernikahan sirri atau yang kerap juga kita sebut dengan pernikahan di bawah tangan itu? Harus kita akui dalam tradisi kita ada beberapa hal penyebabnya.

1. Pernikahan itu disengaja disembunyikan karena untuk mencari sisi halal (istihlal) saja. Misalnya, pasangan yang masih kuliah di kota yang sama ditakutkan akan terjadi masalah jika tidak dinikahkan lebih awal. Atau mecari halal yang dilakukan seseorang yang memerlukan muhrim untuk haji atau umrah yang perlu diikat dengan pernikahan sirri semacam ini.

2. Karena darurat. Pasangan tersebut mengharuskan kawin karena tidak ingin jatuh ke maksiat yang lebih jauh, sementara untuk menikah secara resmi tidak mungkin dilakukan karena persyaratan administrasi tidak lengkap dan lain sebgainya. Alasan yang pertama dan kedua ini biasanya nanti akan dilanjutkan pada proses pencatatan ke Kantor Urusan Agama (KUA) karena pernikahan yang dilakukan secara sirri tersebut hanya untuk membuka keran hala dalam berhubungan.

3. Pasangan tersebut sengaja menikah dengan cara itu karena memiliki maksud tersembunyi. Misalnya, tujuan poligami yang tidak sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengharuskan izin dari pengadilan dan istri sahnya. Sehingga ia perlu menikah dengan cara sirri agar tidak ketahuan belangnya.

4. Terkait dengan pemahaman hukum masyarakat, yang belum tersentuh dengan aturan-aturan perkawinan. Seperti sebagaian masyarakat Arab Saudi yang hingga kini masih belum suka menikahkan anaknya dengan tidak di catatkan yang disebutkan dengan istilah ‘urfi (nikah berdasarkan adat istiadat). Sementara pernikahan yang dicatatkan di Kantor Kementrian Dalam Negeri atau petugas pemerintah daerah setempat disebut dengan nikah ma’dzun (yang diizinkan dan tercatat).

5. Karena mungkin terkait dengan pemahaman dan keyakinan yang dianut sementara kalangan yang tetap menganggap perlu pencatatan yang dilakukan Negara. Mereka lebih suka menikah dengan cara tradisi mereka sendiri (tanpa dicatatkan) meskipun dirayakan dengan meriah.

Tentu pernikahan semacam ini memiliki cacat karena bertentangan dengan hukum negara yang berlaku. Hukum itu sendiri dibangun atas asas yang melindungi warga Negara, terutama kalangan wanita. Jika nikah sirri dilakukan dan kemudian berakibat pada perceraian maka dampaknya akan banyak merugikan wanita. Beberapa kerugian wanita karena dampak nikah sirri, antara lain:

1. Jika kelak memiliki anak, maka si anak tidak akan memiliki akte kelahiran.

2. Jika terjadi perceraian , maka wanita tidak bisa melakukan gugatan atas harta yang dimilki bersama karena pengadilan kita akan melihatnya dari sisi material. Si wanita tak bisa menuntut apa pun kepada suami yang tak tercatat pernikahannya.

3. Wanita akan mengalami kesulitan jika kemudian di “gantung” oleh suaminya tanpa perceraian. Sebab, si wanita merasa tidak tidak bisa menikah karena masih terkait pernikahan secara agama. Sementara si laki-laki bisa leluasa menikah lagi.

4. Secara sosiologis dan psikhologis pernikahan sirri lebih banyak mendera wanita karena secara pergaulan di kalangan wanita mereka akan di cibir dengan berbaga sindiran karena tak memiliki surat nikah yang sah.

Karena itu, pernikahan yang dilakukan hanya secara agama dan mengabaikan hukum Negara, menurut ulama besar Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz AL-Ubaykan, hukumnya sah namun haram karena dianggap maksiat menentang peraturan pemerintah. Mematuhi aturan pemerintah adalah wajib. Hal yang sama diutarakan mantan Ketua Komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat almarhum Prof. K.H. Ibrahim Hosen LML.

Tidak ada komentar: