Senin, 14 Maret 2011

Betul Ingin Cerai ? ini lho dampaknya pada anak




Dampak negatif perceraian pada anak antara lain : 1. Marah pada diri sendiri, atau marah pada lingkungan, dan sudah pasti marah pada orang tua 2. berbakat jadi  pembangkang, 3. enggak sabaran, 4. anak akan merasa bersalah (guilty feeling) dan menganggap dirinyalah biang keladi atau penyebab perceraian orangtuanya.
5. anak jadi apatis, menarik diri, atau sebaliknya, mungkin kelihatan tidak terpengaruh oleh perceraian orangtuanya. 6. anak bisa jadi akan dendam pada orangtuanya, 7. terlibat drugs dan alkohol, dan yang ekstrem, muncul pikiran untuk bunuh diri  8. Apalagi jika anak sudah besar dan punya keinginan untuk menyelamatkan perkawinan orangtuanya, tapi tidak berhasil. Ia akan merasa sangat menyesal, merasakan bahwa omongannya tak digubris, merasa diabaikan, dan merasa bukan bagian penting dari kehidupan orangtuanya. 
Dampak cerai  secara umum :
1. Hilangnya kesempatan bagi suami istri untuk berbuat ihsan dalam bersabar menghadapi beragam masalah rumah tangga yang akan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat.
2. Hancur rumah tangga yang telah dibangun suami dan terpecah belahnya anggota keluarga.
3. Berbagai perasaan cemas dan takut yang muncul menimpa suami manakala berkeinginan untuk menikah lagi. Bahkan, tidak mustahil dia akan merasa kesulitan mengumpulkan modal untuk menikah. Tidak jarang pula para orang tua merasa khawatir untuk menikahkan putri mereka dengannya setelah perceraiannya dengan istri pertama. Hingga akhirnya dia tetap membujang selamanya.
4. Kembalinya para wanita yang telah dicerai ke rumah orang tua atau wali mereka; bahkan ke rumah orang lain. Hal ini tentu akan menjadi beban mental bagi mereka maupun para wali. Sebab, menetap di rumah orang tua maupun para wali setelah diceraikan suami, tidak sama dengan ketika masih gadis sebelum menikah. Ini adalah satu hal rnyang sangat dipahami wanita.
5. Sangat sedikit kemungkinan bagi para lelaki untuk menikahi wanita yang telah menjadi janda setelah diceraikan suaminya. Tidak mustahil, setelah bercerai, sang wanita tetap menjadi janda, tidak bersuami. Tentu hal ini mendatangkan berbagai kerusakan dan tekanan batin bagi wanita tersebut sepanjang hayatnya.
6. Jika ternyata wanita yang diceraikan memiliki anak, maka persoalan menjadi semakin runyam. Sebab, tidak jarang anak-anaknya yang tinggal bersama di rumah para wali wanita akan mengalami berbagai macam permasalahan dalam berinteraksi dengan anak-anak kerabat atau wali wanita tersebut.
7. Tidak jarang sang ayah mengambil anak dari ibunya dengan paksa, hingga ibu tidak pernah lagi dapat melihatnya; apalagi jika bapak dari anak-anak ini bertemperamen keras, pasti berpisah dengan anaknya akan sangat menyakitkan hatinya.
8. Semakin menjauhnya ayah dari anak-anaknya. Bisa jadi disebabkan anak-anak tinggal bersama ibu mereka ataupun disebabkan kesibukannya dengan istri baru yang biasanya tidak begitu memperhatikan anak-anaknya ketika tinggal bersama ibu tiri. Akhirnya sang bapak menuai dosa besar karena menyia-nyiakan anaknya. Padahal, Rasulullah bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan tiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya terhadap yang dipimpinnya. Seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan diminta pertanggung jawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabannya… ” (HR Bukhari, Kitabun Nikah no 5188 )
9. Terlantarnya anak-anak disebabkan jauhnya dari ayah mereka dan kesulitan ibu untuk mendidik mereka sendirian. Hal ini akan menjerumuskan mereka bergaul dengan teman-teman yang buruk perangainya. Apalagi pada zaman yang penuh dengan fitnah dan tipu daya ini, tidak jarang anak-anak yang terlantar ini terjerumus ke lembah syahwat dan perzinaan, ataupun mengkonsumsi obat-obat terlarang, sehingga rnakhirnya mereka menjadi sampah masyarakat. Tentulah hal ini sangat tidak diinginkan oleh setiap orang tua yang masih memilki akal sehat dan kehormatan, sebab akan mencoreng arang di muka mereka.
10. Banyaknya kasus perceraian di masyarakat akan menghalangi banyak pemuda dan pemudi untuk menikah, karena ketakutan mereka terhadap kegagalan dan prahara dalam berumah tangga, yang akhirnya melahirkan sikap traumatis. Tentu hal ini akan mendatangkan bahaya besar bagi masyarakat ketika mereka (para pemuda) terpaksa menyalurkan kebutuhan biologisnya kepada hal-hal yang diharamkan syariat, semisal seks bebas, homoseks, lesbi dan penyimpangan seks lainnya.

11. Confiliked Loyalty. Anak membenci atau mencintai salah satu orangtuanya. Bila orangtua mulai bertengkar, anak biasanya akan membenci salah satu dari orangtua. Orangtua yang lebih pandai memprovokasi anak dialah yang akan dicintai.
12. Loneliness. Terkadang anak sulit mengambil keputusan untuk membela salah satu orangtuanya. Ini akan membuat anak jadi merasa kesepian dan ditinggalkan.
13. Anxiety and feeling of in-security. Anak yang melihat konflik di antara orangtuanya mulai menderita ketakutan dan kecemasan yang tinggi apalagi jika mendengar kata cerai. Mereka takut kedua orangtuanya akan berpisah.
14. Feeling of rejection. Pada saat orangtua bersitegang dan berkelahi, anak-anak akan dihadapkan pada pilihan memihak siapa. Ini menyebabkan anak serba salah dan timbul perasaan ditolak.
15. Anger. Kemarahan anak tercetus dalam prilaku nakal, menjadi memberontak dan menimbulkan berbagai masalah di luar rumah, serta tidak begitu hormat dengan salah satu orangtuanya.
16. Pervasive sense of loss and emptiness. Anak mengalami depresi, menutup diri, hampa dan tak bermakna. Anak khawatir masa depannya yang kini nyaman dan terjamin akan menjadi hancur berantakan. Dari sinilah rasa frustasi dan depresi itu timbul.
Perceraian ialah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut harus memutuskan bagaimana membagi harta benda masing-masing yang diperoleh selama pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atau kontrak), dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anak-anak mereka.
Dampak perceraian Dalam pandangan agama (Islam), perceraian adalah sesuatu yang dihalalkan (boleh) tetapi dibenci oleh Allah, atau dengan kata lain sebagai pintu darurat. Hal ini dapat dipahami karena besarnya dampak perceraian yang tidak hanya menimpa suami-istri, tetapi juga anak-anak. Anak-anaklah yang sangat merasakan pahitnya akibat perceraian kedua orang tuanya. Perkembangan psikologi anak-anak brokenhome yang tidak sehat, seringkali berujung dengan narkoba.
Kurangnya perhatian orang tua (tunggal) tentu akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Merasa kasih sayang orang tua yang didapatkan tidak utuh, anak akan mencari perhatian dari orang lain atau bahkan ada yang merasa malu, minder, dan tertekan. Anak-anak tersebut umumnya mencari pelarian dan tidak jarang yang akhirnya terjerat dengan pergaulan bebas.anyak negara yang memiliki hukum dan aturan tentang perceraian, dan pasangan itu dapat diminta maju ke pengadilan.
namun yang sudah pasti, mawas dirilah anda !
sumber bencana itu berasal dari :
1.bisa jadi persoalan-persoalan, masalah-masalah itu silih berganti mendatangi anda, bahkan istri anda serta anak anda mulai menentang anda, anak menentang ibunya, maka mawas dirilah, mungkin selama ini anda sendiri telah menentang Allah Swt, yang sudah memberi segala kebutuhan, rizki anda dan keluarga anda,
anda lupa bahwa anda adalah makhlukNya, hambaNya, sholat ? so , pasi sudah anda abaikan, sering dhong bolong-bolong ? bahkan lupa, malas  ! jujur pada dirimu !
2. anda sih, mungkin aktif berjamaah, istri andapun tak pernah lupa sholat, namun bro!
ada apa di dalam dompetmu ? ada apa di dalam bantal maupun kasurmu ? apa yang kamu tanam di empat pojok halaman dan rumahmu ? apa yang kamu gantungkan di atas pintu rumahmu ?  jimat, rajah, pusaka ,penglaris, penolak bala, dllnya ? wow ! betapa panas rumahmu ! pantas saja, kamu, istri, anakmu tak karuan sakitnya, pantas saja, bila engkau sering berkelahi, sensitif, mudah tersinggung, lupa ! Pantaslah, jika kamu sering bermimpi buruk, menakutkan, menjijikkan ! kawan ingatlah kamu telah membangun sarang laba-laba dan bukan surga ! 
silakan lihat ayat quran :

41.  Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka Mengetahui. ( Al-Ankabut : 14 )

Tidak ada komentar: