Jumat, 11 Februari 2011

merdekakanlah Aku

saat itu, mungkin baru setahun saya pindah agama. saya masih hangat-hangatnya belajar agama di masjid Salman, tempat saya masuk islam. hampir semua akang dan teteh aktivis di masjid itu tahu saya mualaf. maka pernah dibawa kepada saya seorang mahasiswi yang katanya sedang mengalami guncangan iman.  
dia ingin keluar dari islam.
wah, apa yang bisa saya lakukan?
tapi saya kaget. katanya Islam agama sempurna tapi ada juga nih yang mau keluar. maklum, waktu itu saya baru berusia 18 tahun, banyak hal yang belum saya pahami dalam hidup ini, bahkan mungkin sampai hari ini. seingat saya, dia mahasiswi jurusan Farmasi ITB dengan angkatan lebih tua dari saya.
alkisah dia punya pacar beragama katolik yang baik sekali. dan belum apa-apa, dia sudah bilang gini ke saya,
- katanya kamu dari katolik? pasti kamu juga baik.
mata saya mblalak. waduh. kecipratan apa nih?
mengalirlah cerita penuh keluh kesah darinya tentang agama.
- sebetulnya aku sudah lama mau pindah dari agama islam. semua serba ga boleh, semua serba salah. harus ini, harus itu. sholat aja 5 kali, kadang bentrok ma praktikumku. cape. harus ngaji, hidupku pusing.
ingin deh saya bilang padanya seperti yang sering diajarkan pada saya saat itu. bahwa semua itu untuk melindungi kita dari godaan setan dan neraka jahanam. bahkan lebih berat mana semua ibadah itu dibanding api neraka? pengen deh bisa bicara seperti penceramah agama gitu, tapi sepertinya saya kurang berbakat. dan sepertinya “not my tipe”. hehehe..
lalu apa hubungannya dengan pacarnya yang katolik? belum ditanya, dia sudah curhat lagi.
- setelah aku lihat yang lain, terlebih di pacarku, beragama itu ga repot. maka apa sih agama itu? kenapa yang ini repot, yang itu tidak?
haduh, baru umur 19 tahun, baru pindah agama setahun, sudah ditanya begini. maka saya coba deh bicara,
- saya memilih islam karena saya mau. tidak ada yang maksa.
dia diam.
- saya masuk islam tanpa siapa-siapa yang memberi alasan dan dorongan. saya juga tidak ingin ada pihak yang dituduh mengislamkan saya. saya tidak tahu islam itu repot dan susah. saya masuk ya masuk aja.
dia bertanya,
- kamu dibuang oleh keluarga?
- bisa dibilang begitu.
- kamu dianiaya?
- tidak secara fisik.
- kamu tidak lagi diberi uang lagi oleh keluarga?
- apa saya masih pantas meminta pada keluarga setelah pindah agama?
gantian saya bicara,
- jika tidak ada pacar yang beragama katolik, apakah kamu akan tetap meninggalkan islam?
dia diam.
saya jawab,
- saya tanpa pacar yang beragama islam, saya tanpa siapa-siapa dan saya tetap masuk islam. kalau kamu berani tanpa menggantungkan diri pada pacar yang katolik, mungkin itu lebih baik.
dia kembali bertanya,
- katolik di mataku baik. kenapa kamu meninggalkannya? kamu tidak setuju dg trinitas? kamu tidak setuju Yesus disebut tuhan.
gantian saya yang terdiam. tapi saya jujur padanya, bahwa kenangan saya tentang agama saya sebelumnya memang baik. bukan karena Tuhannya adalah Yesus, bukan karena trintasnya. tapi karena dibawakan dengan baik, setidaknya selama saya mengenalnya.
tidak ada yang marah jika saya tidak ke gereja. tidak ada yang marah jika saya tidak berdoa, tidak juga ada yang marah jika saya main-main di gereja. bahkan nyaris tidak ada dari gereja yang marah ketika saya masuk islam. mungkin karena waktu itu saya masih anak-anak.
saya pun bercerita padanya sebuah kisah lucu dari ibu saya. katanya, waktu kecil saya suka pingsan. bahkan di gerejapun saya sudah beberapa kali pingsan. sampai pihak gereja harus menilpun ke rumah tuk minta orangtua menjemput saya. seorang pasturpun pernah becanda ke ibu saya.
katanya,
- mungkin khusus untuk anis, boleh lahir di gereja tapi bukan tempatnya di gereja.
hehehe.. ya saya inget, waktu kecil saya beberapa kali pingsan di gereja.
maka ketika saya masuk islam, ibu saya baru menceritakan ucapan itu.
katanya,
- mungkin pastur bener juga..
walhasil, saya cuma bisa bilang padanya, bahwa saya tidak benar-benar tahu persis mengapa saya memilih islam. tapi saya mencoba memilih islam tanpa apa-apa. mencoba bener-bener tiada Tuhan lain selain Allah. tiada rasa lain selain rasa “itu”. tidak juga ada ingin lain, selain itu. juga tidak ada kebencian kepada agama sebelumnya, hanya ingin islam saja. membuang dan membuang semua yang lain yang sering menggoda. bisakah itu dan hanya itu? lurus dan lurus, dan jangan bengkok walau sedikit?
lalu Muhammad?
beliau bilang sendiri bahwa beliau cuma utusan. maka syariatnya, bukan berarti itulah Tuhan.
itu yang saya pahami dari sejak saya pertama memilih islam. entah siapa yang mengajari, tapi tahu-tahu rasanya ya begitu saja.
saya tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan tentang teman mahasiswi itu. saya cuma merasa sedikit bersalah bahwa saya tidak mencegah juga tidak mendukung pilihannya. saya hanya memerdekakannya tuk memilih. saya sendiri sempat berpikir, mungkin saya gila. giliran orang semangat dakwah islam, saya kok malah gitu? tapi ya memang begitulah saya, bahkan dari pertama saya mengenal islam.
saya mengenal kelompok yang sangat keras mengajarkan syariat islam. tapi sungguh, saya tidak bisa bertahan jika jiwa saya tidak merdeka. saya ingin bisa melakukannya ketika tidak ada Tuhan lain selain yg saya sebut Allah itu. tidakkah paksaan bisa menjelma menjadi “Tuhan lain”?
tapi bahwa saya belajar dan menjalankan tata caranya Muhammad, itu iya.
hari ini, di era semua berlomba-lomba tuk eksis di ruang publik, agama pun berlomba mencari eksistensinya di ruang publik, saya sering terdiam. bukankah di dalam diri sendiri saja memelihara eksistensi Tuhan sudah sulitnya setengah mati??
ah, Tuhan..
pertanyaan saya hari ini, setelah 20 tahun pindah agama, adalah..
- apakah bisa tanpa yang lain selain Engkau?
maka kadang ingin kumatikan semua rasa
kupejamkan mata dari semua rupa
kututup telinga dari semua katanya
sampai tak ada yang lain, hanya Engkau
tapi kadang juga aku berterimakasih pada sejuta rasa
sejuta rupa dan sejuta katanya
yang telah membuat dunia ini berwarna dan berirama
yang telah membuatMu hadir sebagai anugerah
maka lihatlah aku, Tuhan..
yang berjalan dan Kau perjalankan
yang berpindah dan Kau pindahkan
masihkah Kau ditempatMu?
diam dan kaku di situ?
atau Kau mau menari bersamaKu?
di jiwaku?
Tuhan…Tuhan..
Kaukan kupeluk
tak ingin Kau jauh dariku..
merdekakanlah aku
maka aku belajar memerdekakan jiwaku
aku belajar memerdekakanMu
anis

sumber :http://mualafmenggugat.wordpress.com/2010/08/03/merdekakanlah-aku/#comment-3831

Tidak ada komentar: